Archive

Archive for the ‘Architecture’ Category

‘ Pepsi can ‘ a la Pop Art, Snackbar Bram Ladage, Rotterdam

 

 

 

 

 

 

Point of  Interest  & Point of  Orientation -  Banyak cara dilakukan untuk menarik perhatian publik akan kehadiran sebuah bangunan. Terlebih lagi, apabila yang dimaksud merupakan bangunan komersial.  Snackbaar Bram Ladage  (K.W. Christiaanse, M.J.van der Stelt, 1990), misalnya.  Sebuah snackbar favorit masyarakat setempat yang menjual kentang dan minuman segar. Sebuah ’Pepsi’ raksasa ala kreasi seni Pop Art menempel pada salah satu sisi bangunannya. Kehadirannya  sungguh menjadi point of interest di car free shopping center area di sekitar Stasiun Beurs, Rotterdam.’Pepsi’ raksasa  yang menyatu dari konsep bentuk dan massanya ini,  dapat juga berfungsi sebagai point of orientation.  Uniknya, ‘Pepsi’ ini berfungsi sebagai area service. Bukan sebagai hiasan semata yang menarik perhatian publik (Santi Widhiasih)

Categories: Architecture

A traffic-free shopping centre – “The Lijnbaan”, Rotterdam

December 18, 2009 1 comment

Postwar architecture & Pioneer - Dampak dari serangan udara Jerman pada tanggal 14 Mei 1940 terhadap kota Rotterdam, disatu sisi, membawa pembaharuan terhadap tatanan kota dan arsitekturnya. Bahkan menjadi satu terobosan baru dibidangnya pada saat itu.  Tidak hanya sebuah pembaharuan berskala nasional, namun juga sebuah pembaharaun berskala internasional. A traffic-free shopping center  – the Lijnbaan, salah satunya  ‘ The Lijnbaan’ menjadi salah satu ’pelopor’ pemisahan antara jalur pedestrian dengan jalur kendaraan.  Jalur pedestriannya pun dipercantik dengan street furniture.  Ada art work, tempat duduk- duduk, pepohonan, outdoor caffee dan lampu- lampu.  ‘ The Lijnbaan’ pun  mempelopori perpaduan antara living dan shopping area. Berbeda dengan yang sudah dibangun di tahun- tahun sebelumnya, dimana area hunian dibangun tepat diatas area komersial, disini  area terbuka hijau sebagai buffer diantara kedua fungsi yang berbeda. Hasil rancangan Jo van den Broek dan Jacob B. Bakeman ini pun mendunia, menjadi test case a traffic- free shopping center di berbagai negara.

Continuity - Berjalan menyusuri ’ The Lijnbaan’ sepanjang kurang lebih 2 km, kita tidak akan menemukan dead end. Sebaliknya  kita dapat melanjutkan jalan kaki kita ke shopping center Beurstraverse yang dibangun tahun 1990-an, bahkan bisa berjalan terus ke daerah Blaak. Sebuah acara shopping  atau window shopping  yang menyenangkan dari satu pertokoan  ke pertokoan lainnya, tanpa ’diganggu’ lalu lalang kendaraan.

The 60′s turn to 50 - Usianya yang telah mencapai lebih dari 50 tahun, membuat ’ the Lijnbaan’ ( dibuka di tahun 1953)  bisa menjadi monument Modern Architecture.  Namun tidak berbeda dengan bangunan- bangunan di periode yang sama di berbagai belahan dunia, manakala memasuki usia 50 tahun, seolah memasuki masa ‘evaluasi’ untuk sebuah kemungkinan baru. Apakah dikonservasi, dipreservasi atau ’diperbaharui’ dengan sesuatu yang lebih sustainable secara tata sosial ekonomi, tata kota maupun arsitektur  (Santi Widhiasih)

Referensi :

Categories: Architecture

Kota Arsitektur – ” Rotterdam 2007 City of Architecture “

November 20, 2009 Leave a comment

Belum lawas untuk diulas. – Walaupun telah berlalu, peristiwa perhelatan ‘kota arsitektur’ di Rotterdam di tahun 2007 lalu, tidak terasa sebagai peristiwa lawas untuk diulas. Tetap menjadi sesuatu yang menarik. Melihat perjalanan tumbuh kembang kota dan arsitektur di Rotterdam. Rotterdam 2007 City of Architecture, mengapresiasi satu abad perjalanan arsitektur modern di kota Rotterdam. Ada 40 bangunan yang menjadi ‘wakil’ perhelatan ini. Diantaranya, Cafe De Unie (J.J.P. Oud, 1924 – 1925), Stock Exchange/ World Trade Center ( J.F. Staal 1925 -1940; Groosman Partners 1983 – 1986), Shopping Center/ Apartment buildings Lijnbaan ( Van den Broek & Bakema/ Maaskant, Krijgsman, Bakker 1951 -1953/ 1954 -1956 ), dan NAI (Netherlands Architecture Institute, J.M.J Coenen 1988 -1993).

Eye Catching- Uniknya, ke empat puluh bangunan ini diberi ‘tanda’ warna unggu. Bisa pada kaca jendelanya atau kolom bangunannya. Bisa berbentuk segiempat sama sisi berwarna unggu. Bisa juga persegi panjang berwarna unggu melintang bidang fasad. Bisa juga berupa garis silang berwarna unggu. Keberadaan warna unggu ini tidak ‘merusak’ tampilan fasadnya. Tampil serasi, bahkan bisa dianggap sebagai aksen baru pada fasad. Sangat mudah publik menemukan tanda unggu ini, baik dari jarak dekat maupun kejauhan.

Informatif Tidak hanya itu, sepanjang tahun diadakan beragam kegiatan berkaitan dengan perhelatan ini. Ditunjang lagi dengan publikasi yang intens. Ada spanduk di ruas- ruas jalan yang strategis. Ada brosur- brosur kegiatan di tourist information center. Ada poster- poster di berbagai sudut kota yang strategis. Ada buku architectural guide yang sangat membantu untuk mengenal dan memahami keempat puluh bangunan tadi. Keistimewaannya secara arsitektural ataupun nilai historisnya. (santi widhiasih)

Categories: Architecture

Constructivisme di Museum Boijmans van Beuningen, Rotterdam

November 14, 2009 Leave a comment

Booth Contructivisme - Ada sebuah booth  yang menarik di Museum Boijmans van Beuningen, Rotterdam. Sebuah booth yang menampilkan karya Constructivism. Beragam karya lukis, furniture, dan maket interior dengan warna- warna cerah, diimbangi oleh hitam dan putih tampil dalam komposisi geometris. Semuanya  tertata apik di dalam booth yang berbentuk lingkaran. Walaupun berkembang sekitar tahun 1920-an ,  melihat karya- karya Constructivism di museum ini  tidak terasa sebagai karya ‘masa lampau’. Tetap terasa ‘ baru ‘  untuk masa kini.

  • Vladimir Taltlin & Constructivisme –  Karya Vladimir Tatlin ‘ Futuristic Monument ‘ ( web.mit.edu/slava/guide ) di 3rd International (1920) di St. Petersburg, dimaknai sebagai awal ‘eksistensi’ Contructivisme.  Karya Tatlin ini menyimbolkan revolution dan human interaction. Kondisi setelah Perang Dunia Pertama mendorong tumbuhnya pembaharauan dalam beragam aspek kehidupan. Dan Tatlin diantaranya. Pengaruh pemikiran meluas ke luar Rusia di akhir tahun 1920-an.  
  • Constructivisme – art & arsitektur - Dalam bidang  art,  tampilan atau ekspresi abstrak tidak merepresntasikan image tertentu, minimal, geometris, dan bereksperimen dengan beragam industrial material. Sedangkan dalam bidang arsitektur,  contructivisme  diwarnai dengan  hasil industrial secara optimal. Diekspresikan dengan penggunaan material steel dan glass. Mempunyai bentuk geometris dan memiliki sense of movement.

 De Stijl dan Contrutivisme di Boijmans van Beuningen -  Karya De Stijl dari Belanda, merupakan bagian dari spirit Constructivisme. De Stijl menyederhanakan komposisi visual dalam arah horizontal dan vertikal. Warna primer (merah, biru,kuning) dan warna hitam, putih menjadi elemen komposisi.Di dalam booth melingkar di museum ini,  baik di sisi luar mau pun sisi dalamnya, tergantung lukisan, maket  dengan komposisi garis horizontal dan vertikal, permainan warna primer,hitam dan putih. Dan yang sangat menarik perhatian mata di booth ini adalah hadirnya Red Blue Chair karya Gerit Rietveld ! (santi widhiasih)

referensi :

Categories: Architecture

Uniknya Ragam Fasad pada Rumah Berderet

September 8, 2009 1 comment

Published in ‘ Tabloid RUMAH, edisi 169-VII, 04 September – 16 September 2009′ – Writer : Santi Widhiasih.

(note : text will be added asap)

Summary : This article is about unique facades of row houses in IJburg, Amsterdam. Row houses ussually have similar facade, but it is not the case of row houses in IJburg.  Various artistic facades stand side by side. In my perception, when I was walking passing these facades, these various unique facades looked  like ‘a big patchwork’ even like a public art’ work . What an interesting row houses !

Tabloid RUMAH, edisi 169-VII, 04 September - 16 September 2009, page 32-33

Tabloid RUMAH, edisi 169-VII 04 September - 16 September 2009, page 32

Tabloid RUMAH, edisi 169-VII 04 September -16 September 2009, page 33

Categories: Architecture

Harmonisasi Warna, Garis dan Bidang pada Karya- Karya De Stijl

August 26, 2009 1 comment

Published : Tabloid RUMAH , Edisi 56, III/ 15 Maret – 28 Maret 2005 – writer : Santi Widhiasih

( Note : Pada blog ini, tulisan dibuat  lebih singkat dari artikel aslinya/ Simplified from the published article)

Spirit seni dengan nilai universal, adalah pemikiran baru yang dilontarkan oleh De Stijl. Nilai- nilai individual di masa lalu, diganti  dengan nilai- nilai yang bersifat universal.

Spirit De Stijl – De Stijl adalah sebuah kelompok seni di awal abad ke-20. Bagi mereka, kehancuran dan kerusakan yang diakibatkan oleh Perang Dunia I dan dominasi industrialisasi yang indentik dengan ketepatan merupakan titik awal menuju jaman baru dengan spirit seni yang baru pula. Pelukis Theo van Doesburg dan Piet Mondrian sebagai tokoh gerakan ini, menerbitkan sebuah majalah yang bernama De Stijl (The Style) di tahun 1917 di Leiden. Melalui majalah ini, mereka mempublikasikan pemikiran seni mereka untuk abad baru yaitu Abad Mesin.

Bagi De Stijl, komposisi abstraklah yang dapat memenuhi nilai universal. Secara visual, segala sesutu diekspresikan dalam elemen bentuk yang paling dasar yaitu warna, garis, bidang bertikal dan horizontal. Yang unik, De Stijl hanya menggunakan warna murni, yaitu merah, kuning, dan biru. Sedangkan warna hitam, putih dan abu-abu digunakan sebagai warna kontras. Komposisi abstrak warna, garis, dan bidang yang menjadi karakter dari De Stijl, baik dalam bentuk lukisan, furnitur maupun arsitektur.

Seni Lukis Abstrak De Stijl - Mengingat spirit ini dipelopori oleh pelukis, tidaklah mengherankan pada awal eksistensinya spirit seni baru De Stijl diwujudkan dalam bentuk lukisan sang tokoh, Theo van Doesburg dan Piet Mondrian. Contohnya,dalam lukisannya, Theo van Doesburg mengabstrasikan  irama dinamis dari sebuah tarin dalam komposisi garis- garis vertikal dan horizontal.

De Stijl dan Furnitur – Seiring dengan perjalanan waktu, sprit De Stijl semakin mengilhami jiwa seni para seniman lainnya yang tergabung di dalamnya. Adalah Gerit Rietveld yang menerapkan spirit De Stijl dalam furniture. Beberapa karyanya dalah Red Blue Chair (1923) dan Berlin Chair (1923).  Komposisi furnitur- furnitur ini memberi kesan ringan.

De Stijl dan Arsitektur - Dalam bidang arsitektur, Schroder house di Utrecht  karya Gerit Rietveld dan Cafe de Unie di Rotterdam karya JJP. Oud merupakan realisasi spirit De Stijl dalam arsitektur yang sangat menarik. Keduanya bagaikan lukisan abstrak De Stijl yang direalisasikan dalam bentuk bangunan, yang merupakan komposisi bidang, garis dan warna.

Jejak Pengaruh De Stijl – Wafatnya sang tokoh, Theo van Doesburg di tahun 1931, tidak membuat pengaruh De Stijl menghilang. Hasil kunjugan dan pameran ke beberapa negara di Eropa membawa hasil. Salah satu contoh jejak pengaruhnya ada pada Bauhaus, sebuah sekolah desain yang paling terkenal di abad ke 20. Sekolah yang didirikan pada tahun 1906 ini juga berkeinginan menandai jaman baru dengan spirit yang baru pula. Ketika sekolah ini ditutup oleh NAZI pada tahun 1933, para tokoh Bauhaus pergi ke Amerika. Ada yang menjadi pendidik dan ada juga yang menjadi arsitek. Hal ini secara tidak langsung membuat spirit De Stijl berakumulasi dengan pemikiran- pemikiran tokoh Bauhaus. Dan menjadi inspirasi dalam pencarian arsitektur baru pada jaman baru. (sw)

' Tabloid Rumah, Edisi 56, III / 15 Maret - 28 Maret 2005

 

Categories: Architecture

Dinamika Arsitektur Art Deco

Published : Tabloid RUMAH, Edisi 65, III/ 19 Juli – 01 Agustus 2005, Writer :  Santi Widhiasih

( Note : Tulisan pada blog ini, dibuat lebih ’ringkas’ dari artikel aslinya/ Simplified from the published article)

Awal abad ke -20 merupakan masa yang istimewa bagi masyarakat dunia Barat. Pada abad yang dikenal dengan sebagai Abad Modern atau Abad Mesin, industrialisasi dan pembaharuan merebak di berbagai aspek kehidupan. Terlebih lagi setelah Perang Dunia I usai, tumbuh semangat untuk membangun ‘dunia baru’ dari kehancuran yang diakibatkan oleh perang.

Bidang arsitektur pun tidak luput dari pembaharuan. Para arsitek di berbagai negara Eropa mencoba memaknai abad ini dengan karya yang berbeda dari masa lalu. Ditunjang dengan kemajuan teknologi mereka mengeksplorasi berbagai gaya baru dengan tidak lagi mengacu pada bentuk yang mengakar pada arsitektur Klasik yang telah berabad- abad menjadi orientasi mereka dalam berkarya.

Awal Istilah Art Deco - Adalah Perancis, salah satu negara yang menggalang pembaharuan di bidang arsitektur dan seni. Gerakan pencarian gaya baru yang terpencar di berbagai negara Eropa dihimpun dlama sebuah pameran berskala internasional. Di kota Paris diselenggarakan Exposition Internationale des Arts Decoratifs Industriels et Modernes atau International Exhibition of Industrial and Modern Decorative Arts selama 6 bulan.

Dari nama pameran di kota Paris di tahun 1925 inilah, sejarahwan Bevis Hillier melahirkan istilah Art Deco di thaun 1968. Sebelumnya, istilah ini dikenal dengan sebutan Modernistic atau Modern.

Art Deco vs Art Nouveau – Untuk menunjuk pengaruh tunggal dalam Arsitektur Art Deco sungguhlah sulit. Banyak faktor yang mempengaruhi sepanjang masa ‘hidup’nya, antara Perang Dunia I (1914-1918) dan Perang Dunia II (1939-1945). Beberapa pendapat terlontar terhadap nya.

Ada yang berpendapat Art Deco merupakan gaya yang eklektik. Mencampurkan berbagai langgam dalam satu bangunan. Ada juga pendapat yang saling bertentangan, yaitu Art Deco merupakan kelanjutan dari Art Nouveau. Dan Art Deco sebagai ‘reaksi’ dari Art Nouveau. Namun ada juga yang berpendapat adanya kesamaan antara Art Deco dan Art Nouveau, yaitu keduanya menganggap dekorasi merupakan bagian dari arsitektur.

Art Deco Tahun 1920-an – Art Deco di tahun 1920-an ditandai dengan bentuk – bentuk bersudut tegas, zigzag atau berundak. Sedangkan ornamen geometris terinspirasi oleh mesin- mesin industri yang serba presisi dan oleh ancient art dari beberapa kebudayaan, seperti Aztek, India, Afrika dan Mesir. Kehadiran ancient art dalam Art Deco dipacu oleh semakin terbukanya komunikasi dan transportasi antarwilayah dunia.  Antusiasme masyarakat dunia Barat terhadap kebudayaan di belahan dunia lain menjadi terbuka. Terlebih lagi di thaun 1922, ditemukan makam King Tutankhamen di Mesir oleh arkeolog Inggris, Howard Carter. Keindahan bentuk, simbol dan warnanya sangat mempesona. Memberi ilham masyarakat Barat dlama melepaskan diri dari pengaruh budaya Klasik. Sedangkan material yang digunakan dalam ekspresi Art Deco antara lain bahan finishing dengan ekpresi mengkilap, seperti stainless steel, chrome, aluminium dan kaca. Contoh arsitektur Art Deco di tahun ini yang terkenal adalah Chrysler Building di kota New York. Bangunan ini menggunakan bahan finishing fasade yang berkesan mengkilap dan aplikasi ornamen non Klasik.

Art Deco tahun 1930-an. Memasuki periode bentuk streamline. Bentuk ini lahir sebagai akumulasi dari beberapa hal.  Diantaranya adalah World deprression di tahun 1929, yang berdampak pada efisiensi. Pada saat yang bersamaan, industri transportasi dengan bentuk aerodinamis semakin berkembang. Tampilan dekorasi Art Deco di periode ini menjadi relatif  lebih sederhana. Bentuk bangunannya menjadi aerodinamis, streamline, atau oceanlinier. Bentuk- bentuk yang diilhami oleh bentuk transportasi udara, laut atau darat.  Di Indonesia, tepatnya di Bandung, ekspresi aerodinamis Art Deco terlihat pada bangunan pada jaman kolonial Belanda, yaitu Denis building, Hotel Homan dan Vila Isola.  Sedangkan di wilayah tropis Miami Beach Florida, sebuah wilayah yang dikembangkan sebagai tujuan wisata baru di tahun 1930, dikenal istilah Tropical Art Deco. Warna- warna pastel menjadi keunikan darinya.

Dinamika Art Deco terhenti keita pecah Perang Dunia II. Hal ini bukan berarti jejak Art Deco menghilang dan dilupakan. Art Deco masih memberi pengaruh pada periode berikutnya. Motif dekoratifnya memberi inspirasi pada arsitektur Post Modern yang mulai tumbuh sekitar tahun 1960-an (sw)

'Dinamika Arsitektur Art Deco', Tabloid RUMAH, Edisi 65/ III, 19 Juli - 01 Agustus 2005 

 

Categories: Architecture

Jejak Arsitektur Sang Presiden

Book Review ( Published :  Pikiran Rakyat Newspaper, Bandung, 11 September 2006) – Santi Widhiasih 

 Book Tittle  : Bung Karno Sang Arsitek – Kajian Artistik Karya Arsitektur, Tata Ruang Kota, Interior, Kria, Simbol, Mode Busana dan Teks Pidato 1926 -1965

Writer  : Yuke Ardhiati

Editor : JJ. Rizal

Pengantar : Edi Sedyawati

Publisher  : Komunitas Bambu, Depok, Juni, 2005

Pages : xxii + 370 pages

 

Summary : Much has been discussed about Soekarno’s role in policitical field. However, Soekarno contribution as the first President of Indonesia  as well as an architect (graduated from Technische Hogeschool- TH Bandoeng, now ITB, in 1926) , has not much been disscussed. It is Yuke Ardhiati who did this research.  Soekarno integrated his political vission with his aethetics, architectural sense which reflected in his projects with Pro Bono Publico spirit. And he also emphasized  national and character building not only through architecture but also through city planning, interior, craft, and fashion. Above all this book is good to be read. Understanding Soekarno as President as well as an architect. As Ardhiati used mentalite approach in doing the reseach, there is a lot of historical information revealed. There were  social, cultural, political  situation that influenced Soekarno. This is another interesting point of the book. Understanding  Sukarno’s ‘products’ as well as their historical background.

(Text of article can also reffer to http://cisral.unpad.ac.id/index.php/2007/07/13/jejak-arsitektur-sang-presiden)

100_6865

Categories: Architecture

Kota Bandung dalam Sketsa Cat Air

August 14, 2009 2 comments

Book Review (published  Pikiran Rakyat  Newspaper, Bandung, 8 Agustus 2005) – Santi Widhiasih & Norman M

 

Book Tittle : Bandung in Watercolour -  A Travel Guide

Editor : Frances B. Affandy

Text : M.Ichsan Hardja, Medina Desianti

Ilustrasi : M. Ichsan Hardja, Arinaka T, M. Avrilany, R.Satriyaji

 Publisher : Art Paper Publishing House, Bandung, 2005

Book size : 31 x 33x 2 cm

Page : 96 pages

Summary : Do you want to travel around Bandung ? This book can be used as your guide. It tells you about Bandung from the ‘early’ time until now. Historical area of Bandung, Colonial architecture, art and culture, food and life style are described uniquely. Unique because instead of using ‘words’ in describing Bandung, this book use watercolour sketches.  Moreover the text of the books some are written with handwriting. Above all  this artistic book can enrich the collection the existing books about Bandung. And unique among the others because of its ‘watercolour sketches & handwriting’. Never getting bored looking at 200 watercolour sketches  this book !

 

Anda ingin menyusuri kota Bandung, Jawa Barat ? Buku ini menjadi  jawaban untuk pertanyaan itu karena dapat digunakan sebagai penuntun menyusuri berbagai kawasan di kota Bandung.  Yang terasa istimewa dari buku ini adalah tampilan bahasa gambar dan tulisannya. Gambar yang ditampilkan bukanlah merupakan foto hasil bidikan kamera atau reproduksi foto lama. Tapi melalui sentuhan tangan arstistik tim ilustrator, gambar dinamika kehidupan masyarakat dan kota Bandung dibuat  dalam sketsa cat air yang menarik. Ditambah lagi teks uraian dari sketsa pun menggunakan tulisan tangan sang ilustrator. Alhasil buku ini adalah kumpulan 200 sketsa cat air yang menarik diatas kertas Mohawk, kertas khusus untuk cat air, yang bertutur tentang kota Bandung.

Sesuai dengan visi buku ini, yaitu sebuah travel guide maka buku ini tidak menyuguhkan suatu uraian yang mendetail layaknya sebuah text book. Uraian pada sketsa tentang keunikan di berbagai wilayah kota Bandung hanyalah bersifat highlight. Penulis buku ingin berbagi sudut pandang, pemahaman dan pengamatannya terhadap kota Bandung.

Dari satu wilayah ke wilayah kota Bandung yang telah terbentuk secara historis, pembaca dituntun mengitari kota Bandung. Diawali dari kawasan Alun-alun dan Banceuy, Braga, Asia Afrika, Pasar Baru dan Stasiun, Balai Kota dan Kologdam, Riau, Gedung Sate, Dago dan Lembangweg.

 Dalam setiap segmen wilayah ini dituturkan secara umum keistimewaan atau peran kawasan pada awal berdirinya hingga kini. Cerita masing- masing wilayah pun dilengkapi dengan cerita keunikan bangunannya. Keunikan bisa saja karena nilai historisnya, keunikan secara estetis, maupun keberadaannya saat ini yang menjadi pusat kegiatan masyarakat dan menjadi bagian dari lifestyle.

Penuturan pun diakhiri dengan cerita tentang food & culture. Selain menceritakan tentang makanan tradisional, dipaparkan pula makanan yang tengah digandrungi oleh masyarakat saat ini yang mudah ditemui di jalan- jalan. Tidak ketinggalan, cerita tentang kesenian tradisional adu domba dan wayang golek.

Keberadaan buku “Bandung  in Watercolour – A Travel Guide” dapat melengkapi referensi yang telah ada, yang selama ini telah banyak ditulis Haryoto Kunto (alm). Yang membedakan buku ini dari buku tentang arsitektur kolonial yang ada, khususnya tentang kota Bandung adalah bahasa gambar dan tampilan tulisannya, yaitu menggunakan sketsa cat air yang artistik. Dan buku ini bertutur mulai dari cikal bakal kota Bandung, sampai kehidupan Bandung sampai saat ini, yang diramaikan oleh factory outlet, dihiasi oleh jalan layang yang membelah cakrawala kota Bandung, dan trend lifestyle masyarakatnya saat ini.

Namun, pemahaman berbagai kawasan ketika menyusuri kota Bandung akan lebih terstruktur bila terlebih dahulu disuguhi gambaran umum tentang pertumbuhan kota Bandung dan peta kunci kota sebagai orientasi letak kawasan yang dipaparkan. Perlu kejelian ekstra dari pembaca, terutama yang masih asing dengan kota Bandung, untuk merangakai sendiri kaitan antara pertumbuhan satu kawasan dengan kawasan lainnya. Walaupun demikian, buku ini tetap merupakan sesuatu yang menarik untuk dibaca, bahkan suatu terobosan baru dalam mengajak orang untuk melihat kota Bandung melalui sketsa- sketsa yang artistik.

" Bandung in Watercolour - A Travel Guide" - Art Paper Publishing House, Bandung,2005 (Foto : Santi W)

" Bandung in Watercolour - A Travel Guide" - Art Paper Publlishing House,  Bandung, 2005

Read more…

Categories: Architecture

Arsitektur Mediterania

MEDITERANIA –  Nama yang tidak asing dalam dunia arsitektur. Di Indonesia, tahun 1990  an merupakan masa ‘booming’nya.  Walaupun tidak segencar masa lalu, saat ini masih ditemui pengembang menawarkan hunian dengan sentuhan Mediterania. Namun apa dan bagaimana  sesungguhnya arsitektur Mediterania itu ?

Mediterania = “ Middle of the Earth “

Secara geografis, Laut Mediterania dikelilingi oleh 17 negara, yang terbagi dalam 3 benua (Afrika, Asia dan Eropa). Secara historis, Kawasan Mediterania berperan dalam perkembangan peradaban dunia. Peradaban Mesopotamia dan Lembah Sungai Nil, menyebar ke daratan Eropa melalui pulau- pulau di Laut Mediterania. Kekuasaan Romawi yang pernah meliputi seluruh daratan sekitar Laut Mediterania, termasuk Yunani, membuat kebudayaan Yunani dan Romawi menyebar secara ‘merata’. Pengaruh budaya Islam masuk ke daratan Eropa pada abad 8 pun melalui Spanyol. Tak mengherankan nama Mediterania yang dalam Bahasa Latin berarti ‘middle of the earth’ ditujukan padanya. Pusat berbagai pengaruh. Pusat dari daratan yang mengelilinginya.

Arsitektur Mediterania

Sulit menunjuk satu bentuk baku arsitekturnya. Setiap wilayah di Mediterania,  mempunyai perjalanan sejarah dan keunikan budaya lokal tersendiri. Namun ada beberapa hal yang kerap dijumpai, sehingga dapat dianggap karakter umum arsitektur Mediterania, seperti  :   

a. Kolom dan unsur lengkung yang berakar pada arsitektur klasik Yunani- Romawi pada jendela, pintu dan portico.

b. Teras, selasar lebar ataupun  court yard yang dilengkapi fountain menjadi cara untuk membuat suhu tetap nyaman. Ruang luar merupakan perluasan dari ruang dalam. Dimanfaatkan sebagai  ‘ruang duduk’ atau ‘ruang makan’. Kehadiran unsur air dan taman dalam Arsitektur Mediterania merupakan pengaruh Bangsa Moor ketika menguasai Spanyol.  Bagi bangsa Moor taman merupakan ‘earthy paradise’.

c. Alam menjadi inspirasi pemilihan material finishing  lantai, dinding dan plafon. Dinding dibuat dengan tesktur kasar, terkesan alami.  Iklim panas ,kering, sering tanpa hujan membuat penggunaan atap datar atau atap miring nyaris tanpa teritis.

d. Sinar  matahari ‘kuat’ di kawasan Laut Mediterania diimbangi dengan penggunaan warna tegas. Yunani,  mempunyai ciri paduan biru dan putih. Terinspirasi  dari birunya  laut Mediterania, dan putihnya awan diatasnya. Afrika Utara,  mempunyai ciri warna yang terinspirasi dari warna padang pasir ataupun warna tanah di Delta Sungai Nil. Dan ada wilayah yang terinspirasi oleh warna landscape di Mediterania, seperti merahnya  anggur, kuningnya bunga matahari, dan hijaunya pohon cypress.

Ragam Budaya Lainnya

Bertemunya aneka budaya membuat wilayah ini memberi pengaruh estetis pada arsitektur dan interior. Diantaranya,  Spanyol  yang kaya akan hasil besi, sangat menonjol kreasi decorative metal nya pada railing balkon, lampu, teralis ataupun furniture.  Demikian juga halnya dengan seni keramik. Dipengaruhi budaya Islam, warna, pola penataan dan motif keramik di Spanyol pun  sangat menarik. Sedangkan, Maroko, sangat terkenal dengan rugs.

Arsitektur Mediterania di Amerika

Berkembang pesat  sekitar tahun 1915 – 1940 di Santa Barbara, California, Texas dan Arizona. Iklim an jenis tumbuhan  yang relatif sama dengan wilayah Mediterania, membuat gaya ini dapat menyerupai suasana asli di kawasan Laut Mediterania.

Ketertarikan masyarakat Amerika kepada arsitektur Mediterania, salah satu diantaranya berawal  dari perayaan pembukaan Terusan Panama (Panama Canal) tahun 1915. Pelabuhan laut pertama di Utara Amerika, mengadakan eksposisi. Untuk menciptakan suasana meriah seirama dengan kegembiraan dibukanya Terusan Panama, dipilihlah gaya arsitektur Spanyol. Sesuatu yang berbeda dari kebiasaan masyarakat kala itu, yang umumnya menampilkan arsitektur Klasik untuk bangunan pameran. Elemen arsitektur Spanyol, jajaran kolom- kolom, pergola dan kolam menghiasi area eksposisi. Masyarakat pun terpesona tampilan dan suasana dari pameran. Dan terinsinspirasi menerapakan arsitektur Spanyol untuk rumah tinggal,bangunan umum atau komersial (  Santi Widhiasih )

Referensi :   Haig, Catherine, Mediterranean Styl – Relaxed Living Inspired by Strong Colour and Natural Material, Conran Octopus, London, 1999

http://architecture_about.com

 

www.words-universe.com/definition/mediterranean

www.house-styles-guide.com/spanish-revival-mediterranean.html

Categories: Architecture

Menikmati Kota dari Sudut Pandang Berbeda

Menikmati Kota dari Sudut Pandang Berbeda - writer : Santi Widhiasih ( Published : Tabloid RUMAH, Edisi 149.VI/25 November – 08 Desember 2008)

Summary : Have you ever imagine become a giant ? If you visit Madurodam, you will once experience as a giant. Madurodam is a very well known place for its ‘small city’ in Den Haag, the Netherlands.  All buidlings are made with certain scale and looks like a real buildings. Nice place to visit !

madurodam

Categories: Architecture

Sunken Pedestrian Mall

Shopping Centre Beurstraverse, Rotterdam – sunken pedestrian mall

Pedestrian mall dapat diartikan sebagai jalur pedestrian yang diwarnai oleh pertokoan di sepanjang jalurnya.  Para pejalan kaki dapat berbelanja atau pun sekedar melintas dengan rasa nyaman, tanpa adanya gangguan dari lalang kendaraan.

Hal ini akan kita rasakan ketika berada di shopping center Beurstraverse, Rotterdam. Namun ada suasana dan kesan berbeda manakala melintas sunken pedesterian mall ini. Lokasinya yang berada di’bawah’ jalan Coolsingel  memberi pengalaman ruang tersendiri. Lalu lalang mobil, sepeda motor, sepeda dan tram diatas ‘terowongan penyeberangan’ sama sekali tidak mengganggu kenyamanan menapaki sunken pedestrian mall ini.  Ditenggelamkannya pedestrian mall pun membuat arus lalu lintas Coolsingel  pun tidak terganggu oleh intensitas pedestrian  yang hilir mudik diantara 2 area perbelanjaan yang berada di sisi kanan dan kiri jalan Coolsingel.

Secara ruang keberadaan sunken pedesterian mall yang terpisah oleh jalan Coolsingel tetap terasa menyatu. Adalah canopy melengkung yang begitu dinamis menjadi penanda dan pengikat dari sunken pedestrian mall yang berada di sisi kiri dan kanan jalan. Dan canopy ini pun sebenarnya menjadi bagian dari kolom- kolom fasade toko dalam nuansa Italian style arcade yang dirancang oleh P.B.de Bruijn dan J.A. Jerde (1992-1996). (Santi Widhiasih 17/07/2009)

jalan coolsingel

 

Keramaian Jalan Coolsingel – Beragam jenis kendaraan seperti mobil, motor, sepeda dan tram melintas di jalan ini. Tidak ketinggalan pejalan pun melintas menuju daerah pertokoan yang berada di kedua sisi jalan. Sunken pedestrian mall  yang dapat dianggap sebagai terowongan penyeberangan dibawah tanah, berada melintang dibawah permukaan jalan ini. (Foto : Santi Widhiasih)

Sunken Pedestrian Mall - Keberadaan sunken pedestrian mall, ditandai oleh kanopi melengkung di kedua sisi jalan Coolsingel. Dan kanopi ini menjadi bagian dari disain fasade jajaran toko di sepanjang sunken pedestrian mal dalam suasan Italian arcade.  Tangga menuju dan keluar dari sunken pedestrian mall pun sangat landai dan nyaman (Foto : Santi Widhiasih)

Categories: Architecture

Maksimalis & Minimalis

Maksimalis & Maksimalis

 Minimal dan maksimal adalah dua kata yang mengandung arti saling berlawanan. Pemahaman ini dapat diaplikasikan tak kala mendengar gaya Minimalis dan Maksimalis dalam dunia arsitektur dan interior

Maksimalis vs Minimalis. Ditengah dominasi Minimalis, yang tumbuh di tahun 1990-an, ada sebuah trend yang merebak di tahun 2000-an, yaitu maksimalis. Dari namanya saja, sudah terasa adanya kontradiksi diantara keduanya. Spirit simplicity dari minimalis ” Less is more ” yang diungkapkan oleh arsitek Mies van der Rohe di tahun 1920-an, di tanggapi oleh spirit maksimalis ” More is never enough ” atau “ more is more “. Dalam dunia arsitektur, Minimalis sebenarnya bukan hal baru.  Minimalis berakar pada awal abad 20 dimana dunia tengah memasuki abad Modern. Kemajuan teknologi dan kebutuhan hidup baru, menuntut arsitektur baru yang sesuai dengan keadaan jaman pada saat itu. 

Sebagai contoh, sebelum material konstruksi baja dan beton ditemukan, bangunan mempuyai ketinggian yang relatif lebih rendah, tatanan ruang dalam yang bersekat- sekat dengan dinding tebal. Namun, ketika material baja dan beton ditemukan, ruangan yang lebar, luas tanpa sekat, penggunaan kaca dengan bidang yang lebar ataupun gedung pencakar langit bukan sesuatu yang tidak mungkin diwujudkan. Berbagai pemikiran baru dikemukakan. Salah satunya yang banyak diikuti atau dikembangkan oleh para arsitek di Eropa dan Amerika adalah pengintegrasian bentuk, fungsi dengan kemajuan teknologi dan anti dekorasi. Sebuah pemikiran yang bisa dianggap sebagai jalur tumbuhnya Minimalis. Lambat laut, pemikiran ini pun mendunia, dan dikenal sebagai International Style.

Di tahun 1970 an, orang jenuh akan gaya ini .  Lahirlah Post Modern yang mengali kembali bentuk klasik.  Tak bertahan lama, di tahun 1980 an kejenuhan timbul terhadap Post Modern. Lahirlah Dekonstruksi, yang menawarkan kompleksitas dalam mengolah bentuk geometris murni. Lagi- lagi kejenuhan datang, di tahun 1990 an orang kembali mencari kembali suatu yang esensial. Spirit Minimalis pun kembali digali. Jenuh dengan Minimalis yang ‘dingin’,di tahun 2000 an muncul  Maksimalis.

Arsitektur dan Interior Minimalis -  Spirit simplicity dalam Arsitektur Minimalis diekspresikan dalam bentuk geometris,  garis elementer, penggunaan beton ekspos, anti dekorasi dan penggunaan warna putih yang dominan. Dalam tatanan  interior, Minimalis ditandai dengan permainan ruang yang mengalir , dan pengunaan warna paduan putih dengan hitam, merah atau dengan material bersifat natural atau high-tech.

 Penataan cahaya dan furniture dirancang menjadi satu kesatuan dengan bangunan. Sebagai contoh armatur lampu didisain sedemikian rupa sehingga idak terlihat. Yang diperlukan adalah efek cahaya dari lampu yang tersimpan ‘tersembunyi’.  Sedangkan furniture berbau minimalis mempunyai tampilan yang mengkombinasikan antara fungsi, kenyamanan, keindahan, kekuatan serta memberi kesan ringan .

Arsitektur dan Interior Maksimalis - Berlawanan dengan Minimalis, Maksimalis ‘bergerak’ lebih bebas. Kehadiran ornamen ataupun finishing yang eskprsesif pun bukan tindakan yang ‘salah’ dalam arsitektur maksimalis.  Justru, permainan ornamen, warna, tekstur dan bentuk imajinatif menjadi ‘nyawa’ dalam arsitektur Maksimalis.  Bagi furniture dengan spirit maksimalis, faktor fungsi, tidaklah ‘cukup’. Bentuk- bentuk yang penuh fantasi hadir didalam furniture maksimalis. Tak mengherankan apabila bahan, bentuk, warna yang ‘berani’ menjadi eksplorasi furniture maksimalis. Bahkan padu padan antara furniture ‘antik, classic’ dengan furniture yang ‘futuristik’ pun sah- sah saja dalam tatanan interior maksimalis. (Santi Widhiasih/10 Januari 2008/15 July 2009)

 

Daftar Literatur

Halke Falkenberg, Encarna Castillo (Ed), Minimalism – Design Source, Loft Publications, Barcelona, Spain, 2004

 Kliczkowski, H, Maximalism – Maximalismo, Loft Publications, Barcelona, Spain, 2003

 Miller, Judith, Influential Style – From Baroque to Bauhaus and Beyond – Inspiration for Today’s Interiors, London, 2003

 Widhiasih, Santi, Gaya Minimalis dalam Arsitektur, Kompas Minggu, 26 Februari 2006

Categories: Architecture

Gaya Minimalis dalam Arsitektur

July 14, 2009 1 comment

Gaya Minimalis dalam Arsitektur - writer :  Santi Widhiasih  ( Published  : Harian Kompas, Jakarta, Minggu 26 Februari 2006)

( Text, please reffer to http://evolveria.multiply.com/journal/item/20/Gaya_Minimalis_dalam_Arsitektur

minimalis

Categories: Architecture

Rumah Kubus, Rotterdam

July 14, 2009 1 comment

rumah kubusRumah Kubus, Rotterdam – writer : Santi Widhiasih ( Published  : Harian Pikiran Rakyat, Bandung, 1 Maret 2008).  Text, please reffer to http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=13830

Categories: Architecture
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.