Sculptural Beauty
Arsitektur dan interior merupakan dua bidang yang saling berkaitan. Hadirnya pemikiran baru dalam bidang arsitektur sejalan pertumbuhan pemikiran baru dalam bidang interior. Seperti yang terlihat di abad 20. Abad modern yang indentik dengan abad mesin dimana arsitektur dan interior mengeksplorasi kemajuan teknologi dan industri. Efisien dan fungsional menjadi semangat baru kedua bidang ini. Semangat ini pun tercermin pada kursi sebagai salah satu elemen interior. Namun ada yang menarik, dari kursi ‘modern’. Tidak hanya berperan secara fungsional, tetapi juga ‘sculptural beauty’.
Arsitektur, Interior dan Abad Modern.
Kemajuan teknologi dan industri yang berkembang diawal abad 20 ternyata membawa warna baru dalam dunia arsitektur. Beragam pemikiran baru dilontarkan dalam rangka mencari format baru di jaman baru. Seiring dengan perjalanan waktu, ternyata pemikiran untuk ‘mengintegrasikan’ kemajuan teknologi, industri dan standarisasi bahan bangunan , menjadi faktor yang mendominasi arah pencarian arsitektur baru yang lepas dari pengaruh bentuk klasik. Pada awalnya karya arsitektur yang menekanankan integrasi berbagai kemajuan teknologi tumbuh secara sporadis, terpencar di berbagai negara. Namun lama kelamaan menjadi sebuah gerakan serempak. Gerakan yang melahirkan style ‘seragam’ di berbagai negara industri yang dikenal dengan sebutan International Style. Sebuah style yang hadir secara ‘international’. Bahan bangunan baru, seperti baja, beton dan kaca, mendominasi tampilan style yang anti dekorasi ini. Kehadiran arsitektur baru ini, tentu saja membawa pengaruh pada ruang dalam bangunan. Dengan penggunanaan struktur beton ataupun baja, dimungkinkan bentang ruang lebih lebar dibanding sebelumnya. Ruangan tidak bersekat- sekat pun dapat tercipta. Ruangan pun menjadi terasa mengalir atau spacious.
Kursi-elemen interior- di Abad Modern
Kehadiran ‘spirit’ tatanan interior yang baru seiring dengan kehadiran arsitektur baru ini pun tidak terelakkan. Semangat dari arsitektur baru yang anti dekorasi dan fungsional pun tercermin dalam interior. Kursi pun sebagai salah satu elemen interior seolah juga memasuki fase baru. Sama halnya dalam bidang arsitektur, pengembangan berbagai teknik produksi dan material baru seperti rounded steel , fibre glass, laminated plywood, curved wood , mendorong kreatifitas disain kursi. Kursi tidak hanya dilihat dari fungsinya saja, namun juga dipandang sebagai ‘sculptural beauty’. Tak jarang para arsitek waktu itu pun turun tangan merancang sendiri kursi sebagai elemen interior bangunan yang dirancangnya ataupun sebagai penegasan terhadap pemikiran arsitekturnya. Beberapa arsitek yang juga merancang kursi adalah Le Corbusier, Mies van der Rohe, Eero Sarinen, Alvar Alto. Walaupun karya- karya mereka didisain sekitar tahun 1920 an – 1950 an, namun sampai saat ini karya mereka masih tetap ‘eksis’. Masih dipilih untuk mempercantik interior ruang dengan nuansa ‘modern. Salah satunya adalah cantilever chair.
Cantilever Chair
Berbeda dari kursi konvensional yang mempunyai empat buah kaki, cantilever chair mempunyai bentuk yang menggantung. Hanya bertumpu pada satu sisi mengingatkan pada bentuk balok cantilever pada bangunan yang juga hanya bertumpu pada satu sisi balok. Citra comfort, beauty, lightness dan strenght tercermin dari kursi cantilever ini. Bentuk kursi yang menerus dan mengantung dimungkinkan berkat adanya material baru besi bulat, pelat besi, fiber glass maupun teknik pengolahan kayu. ( Santi Widhiasih )



Daftar Referensi
Miller, Judith, Simon Upton (photography), Influential Styles from Baroque to Bauhaus and Beyon – Inspiration for Today’s Interior, Jacqui Small, London, 2003
Wilhide, Elizabeth, Andrew Wood (photography), Living with Modern Classics The Chair, Ryland Peters & Small, London, 20













