Living With Modern Classics – THE CHAIR
Book Review
- Judul buku : Living With Modern Classics – The Chair
- Penulis : Elizabeth Wilhide
- Photographer : Andrew Wood
- Penerbit : Ryland Peters & Small, London, 2000
The chairs are not made for museums but for living with and enjoying - Benar rasanya, ungkapan Wilhide, berkaitan dengan kurang lebih 40 buah kursi yang diulas olehnya dalam buku ini. Menurut pengamatannya, walaupun dirancang dan dibuat di abad ke-20, kursi- kursi ini masih menjadi bagian dari tatanan interior hingga kini. Dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi dan material baru , para designer terdorong untuk mengekspresikan ide kreatifnya. Kursi menjadi sosok yang tidak sekedar bersifat fungsional, tapi juga menjadi elemen estetis. Sculptural beauty. Dan tentu saja pertimbangan terhadap efisiensi dalam proses produksi dan penggunaan material tidak terlewatkan. Sebuah pendekatan dalam berkreasi yang menjadi ’ciri’ dari semangat industri di abad ke-20.
Architect’s chairs - Siapa yang tidak kenal Charles Renie Mackintosh, Alvar Aalto, Gerrit Rietveld, Ludwig Mies Van Der Rohe, Le Corbusier, Eero Saarinen, atau Frank O.Gehry ? Karya- karya mereka di bidang arsitektur, sudah mendunia dan menjadi bagian dari catatan perjalanan Arsitektur Modern. Dalam buku ini, dipaparkan bahwa ternyata mereka pun meninggalkan jejak dibidang furniture. Mereka mendisain kursi modern yang fenomenal nan abadi- ‘modern classisc’ bersama designer lainnya, seperti Harry Bertoa dengan Diamond Chair (halaman 17), De Pas, D’ urbino, Lomazzi dan Scolari dengan Blow Chair yang menjadi ikon dari Pop Art (halaman26), Hardoy, Kurchan dan Bonet dengan Butterfly Chair (halaman 34), Verner Panton dengan Panton Chair (halaman 54), Philipe Stark dengan Costes Chair, dan masih banyak lainnya.
Chairs like group of people – Buku ini sangat menarik. Selain kaya akan gambar- gambar kursi modernclassics,ulasannya memadu kita untuk mengenalnya lebih dalam lagi. . Memandu kita untuk memilih kursi mana yang tepat untuk menghiasi ruangan kita. Memandu kita dalam mix match kursi dengan ’style’ yang berbeda dalam satu area. Tidak berbeda dengan manusia, kursi pun mempunyai ’karakter’. Kehadirannya dalam sebuah ruang memberi keunikan dan kesan tersendiri, seperti yang diungkapkan oleh Wilhide - Chairs like group of people. (santi widhiasih)
