Book Review
Book Tittle : Ir. F.J.L. Ghijsels – Architect in Indonesia (1910 -1929)
- General Text : drs. H. Akihary
- Text contributions : Simone Scheell, M.E. de Vletter
- Text editor : Ir. R.W. Heringa , M.E. de Vletter
- Publisher : Seram Press, Utrecht, the Netherlands
Book Tittle : Filsafat Seni
Writer : Jacob Sumardjo
Publisher : Penerbit ITB, Bandung, 2000
note : book review will be added asap

Book Tittle : Contemporary Furniture
Author : Sebastian Conran & Mark Bond
Photography : Thomas Stewart
Publisher : Conran Octopus Limited, London
Transform a house to a home - Pemilihan dan penempatan furniture yang tepat, dapat mengubah a house menjadi a home. Demikianlah yang tersirat dalam buku karya Sebastian Conran dan Mark Bond. Pembaca diajak untuk mengenal dunia furniture secara komprihensif agar dapat memilih, menata dan menghardirkan suasana homey. Furniture kontemporer menjadi fokus dalam buku ini. Furniture yang dibuat secara modern, baik dari segi peralatan, pengerjaan maupun bahan.
Living space at its premium - Kehidupan modern yang serba praktis dan space terbatas, membuat disain furniture pun menjadi ikut serba praktis. Multifungsi. Seperti yang terlihat pada ”Bubu”, karya Philippe Starck (halaman 84). Sebuah stool yang berfungsi sebagai tempat penyimpanan. Bentuk dan warnanya sangat unik. Eye catching ! Lain lagi dengan nesting tables karya Ou Baholyadodhin (halaman 86). Terinsipirasi oleh urban architecture, Baholyadihin mendisain meja yang elemen- elemenya dapat ditumpuk menjadi rak. Siluet dan garis- garis rak yang tercipta dari tumpukan elemen meja sangat menarik.
The DNA of the chair – Ibarat manusia, kursi pun memiliki DNA. Adalah Gerrit Rieveld, yang mengawali modernist furniture dengan Red and Blue Armchair (1918). Dilanjutkan oleh karya Marcel Breuer (1925 & 1928), Ludwign mies van der rohe (1929), Alvar Alto (1930), Gerrit Rietveld (1934), Gio Ponti (1952), Eero Saarinen (1956), Arne Jacobsen (1957), Verner Panton (1959) dan Jasper Morrison (1988). Menarik sekali melihat foto kursi- kursi ini berjajar pada halaman buku yang berwarna putih bersih (halaman 20 dan 21) . Bisa dianggap sebagai sebuah ’peta’ alam pikir kita dalam ’membaca’ dinamika furniture kontemporer. Dan sekaligus bisa dianggap sebagai sebuah penegasan bahwa lekak- lekuk dan warna kursi kontemporer memang lah indah, namun tetap tetap fungsional. * (santi widhiasih
Compare furniture to a poem. Poems are constructed from words just as furniture is constructed from details …….(Sebastian Conran & Mark Bond)

Book Review
- Judul buku : Living With Modern Classics – The Chair
- Penulis : Elizabeth Wilhide
- Photographer : Andrew Wood
- Penerbit : Ryland Peters & Small, London, 2000
The chairs are not made for museums but for living with and enjoying - Benar rasanya, ungkapan Wilhide, berkaitan dengan kurang lebih 40 buah kursi yang diulas olehnya dalam buku ini. Menurut pengamatannya, walaupun dirancang dan dibuat di abad ke-20, kursi- kursi ini masih menjadi bagian dari tatanan interior hingga kini. Dilatarbelakangi oleh kemajuan teknologi dan material baru , para designer terdorong untuk mengekspresikan ide kreatifnya. Kursi menjadi sosok yang tidak sekedar bersifat fungsional, tapi juga menjadi elemen estetis. Sculptural beauty. Dan tentu saja pertimbangan terhadap efisiensi dalam proses produksi dan penggunaan material tidak terlewatkan. Sebuah pendekatan dalam berkreasi yang menjadi ’ciri’ dari semangat industri di abad ke-20.
Architect’s chairs - Siapa yang tidak kenal Charles Renie Mackintosh, Alvar Aalto, Gerrit Rietveld, Ludwig Mies Van Der Rohe, Le Corbusier, Eero Saarinen, atau Frank O.Gehry ? Karya- karya mereka di bidang arsitektur, sudah mendunia dan menjadi bagian dari catatan perjalanan Arsitektur Modern. Dalam buku ini, dipaparkan bahwa ternyata mereka pun meninggalkan jejak dibidang furniture. Mereka mendisain kursi modern yang fenomenal nan abadi- ‘modern classisc’ bersama designer lainnya, seperti Harry Bertoa dengan Diamond Chair (halaman 17), De Pas, D’ urbino, Lomazzi dan Scolari dengan Blow Chair yang menjadi ikon dari Pop Art (halaman26), Hardoy, Kurchan dan Bonet dengan Butterfly Chair (halaman 34), Verner Panton dengan Panton Chair (halaman 54), Philipe Stark dengan Costes Chair, dan masih banyak lainnya.
Chairs like group of people – Buku ini sangat menarik. Selain kaya akan gambar- gambar kursi modernclassics,ulasannya memadu kita untuk mengenalnya lebih dalam lagi. . Memandu kita untuk memilih kursi mana yang tepat untuk menghiasi ruangan kita. Memandu kita dalam mix match kursi dengan ’style’ yang berbeda dalam satu area. Tidak berbeda dengan manusia, kursi pun mempunyai ’karakter’. Kehadirannya dalam sebuah ruang memberi keunikan dan kesan tersendiri, seperti yang diungkapkan oleh Wilhide - Chairs like group of people. (santi widhiasih)
Point of Interest & Point of Orientation - Banyak cara dilakukan untuk menarik perhatian publik akan kehadiran sebuah bangunan. Terlebih lagi, apabila yang dimaksud merupakan bangunan komersial. Snackbaar Bram Ladage (K.W. Christiaanse, M.J.van der Stelt, 1990), misalnya. Sebuah snackbar favorit masyarakat setempat yang menjual kentang dan minuman segar. Sebuah ’Pepsi’ raksasa ala kreasi seni Pop Art menempel pada salah satu sisi bangunannya. Kehadirannya sungguh menjadi point of interest di car free shopping center area di sekitar Stasiun Beurs, Rotterdam.’Pepsi’ raksasa yang menyatu dari konsep bentuk dan massanya ini, dapat juga berfungsi sebagai point of orientation. Uniknya, ‘Pepsi’ ini berfungsi sebagai area service. Bukan sebagai hiasan semata yang menarik perhatian publik (Santi Widhiasih)